Minggu, 23 April 2017
Sabtu, 22 April 2017
Rabu, 22 Februari 2017
“ Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dgn didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yg bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dgn ini kemerdekaannya.”
Empat orang ulama tasawuf yaitu : SYEKH MUSA SUKANEGARA (Cianjur), KH ABDUL MU’THI (Madiun), Sang Alif atau R. SOSROKARTONO (Bandung), dan KH HASYIM ASY’ARI Tebuireng Cukir (Jombang).
Siapakah sebenarnya sosok Kyai Mukti sampai Bung Karno harus sowan kepadanya untuk memilih tanggal proklamasi. Menurut Mohamad Roem dalam bukunya Bunga Rampai dalam Sejarah Jilid III, KH. Abdul Mukti atau yang biasa disebut dengan Kyai Mukti lahir pada bulan April 1898 di Barong, Sawahan, Jawa Timur. Kyai Mukti mendapatkan pendidikannya di pesantren selama bertahun-tahun. Dimulai dari Jombang, Bangkalan, dan Nganjuk sebelum akhirnya meneruskan pendidikannya ke Mesir pada tahun 1914 pada umur 17 tahun. Sejak Islam masuk ke Nusantara, pesantren merupakan “kawah candradimuka” tempat intelektual Islam digembleng. Pesantren sebagai lembaga pelestari ilmu pengetahuan telah melahirkan ribuan intelektual. Beberapa alumni pesantren yang namanya masyhur di seluruh dunia adalah Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz al-Tirmasi, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ketiganya pernah menjadi mufti di Makkah dan tercatat sebagai Imam al-Haramain (Tiar Anwar Bachtiar, Lajur-Lajur Pemikiran Islam hal 5).
Sepulang dari belajarnya di Mesir, Kyai Mukti terlibat aktif dalam upaya perlawanan terhadap Belanda melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah lahir di Yogyakarta pada 18 November 1912 yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Kyai Dahlan mendirikan Muhammadiyah sepulangnya dari berguru kepada Syekh Ahmad Khatib di Makkah pada tahun 1890 (Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942 hal 85). Kyai Mukti juga tercatat sebagai pendiri Muhammadiyah Cabang Kudus dan menjadi ketuanya pada tahun 1923-1926. Beliau gencar memberikan semangat kepada kaum muda untuk terus melawan Belanda yang telah ratusan tahun menancapkan kuku imperialismenya di Nusantara. Kyai Mukti yakin bahwa pada saatnya nanti Belanda pasti akan jatuh karena kebathilan pasti akan selalu kalah. Itulah sebabnya, Kyai Mukti selalu skeptis dengan perundingan-perundingan yang diadakan antara Indonesia dengan penjajah Belanda. Menurutnya, Belanda sering melakukan tindakan yang mengecewakan dan bahkan melanggar perjanjian yang telah dibuat. Karena Belanda tidak dapat dipercaya, maka menurut Kyai Mukti perundingan yang telah dibuat akan sia-sia. Sikapnya yang sangat anti Belanda membuat Belanda berang dan menangkap Kyai Mukti.
Sebagai tokoh agama, Kyai Mukti juga mengajarkan akhlak kepada masyarakat, diantaranya adalah manusia hanya boleh tunduk dan menyembah kepada Allah, bukan kepada manusia lainnya. Pada masa penjajahan, seorang Bupati memiliki kedudukan yang sangat terhormat dalam masyarakat, hampir seperti raja. Jika berhadapan dengannya, masyarakat kecil harus berjongkok dan menyembah. Tapi Kyai Mukti menolak melakukan hal yang sama pada saat diundang oleh Bupati ke pendopo kabupaten. Kyai Mukti selalu mempertahankan kebenaran yang diyakininya, meskipun membawa resiko karena berhadapan dengan penguasa.
Pada tahun 1943-1944, Kyai Mukti tercatat sebagai Pimpinan Pusat Masyumi di Jakarta (Mohamad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah Jilid II hal 10). Pada saat itu Masyumi belum menjadi partai politik. Masyumi dibentuk atas “restu” Jepang waktu itu. Jepang memerlukan Masyumi karena memerlukan bantuan ulama untuk mendekati masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Tetapi bagi kaum Muslimin sendiri, terutama para ulama, berdirinya Masyumi adalah sebagai wadah persatuan dan tempat bermusyawarah, yang keputusan-keputusannya ternyata didengarkan oleh Jepang (Hidup itu Berjuang Kasman Singodimedjo 75 Tahun hal 47).
Mohamad Roem menyebut Kyai Mukti sebagai seorang pejuang. Membela kebenaran sampai maut menjemput. Mulai dari masa penjajahan Belanda, Jepang dan bahkan ketika Indonesia sudah merdeka. Kyai yang pernah menjadi pemimpin Laskar Sabilillah melawan pasukan Inggris di Surabaya ini pernah dijadikan buron politik Soekarno selama enam tahun dan dijadikan tahanan politik selama empat tahun. Soekarno seakan melupakan jasa Kyai Mukti. Dia tidak suka dengan Kyai Mukti yang tidak mau membenarkan kebijakannya dekat dengan PKI. Kehidupan Kyai Mukti selama menjadi buron politik sangat sulit. Kyai yang berwawasan luas ini harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kyai yang selalu membela kebenaran dan keadilan ini wafat pada hari Senin 20 September 1976 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Meskipun wafat, semangat dan keteladanannya tetap diingat oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Beliau menjadikan Islam sebagai ruh perjuangan, meskipun tidak pernah diingat dengan baik oleh sejarah. Wallahu a’lam bish shawwab. oleh Khoirun Nisa.
Penulis adalah mantan Aktivis LDK Universitas Brawijaya dan alumni Sekolah Pemikiran Islam Malang Angkatan ke-II
Kamis, 03 Februari 2011
Siapakah Orang-orang Yang Khusu'
Sesunguhnya sholat itu berat, kecuali bagi orang yang khusu'. Siapakah orang yang khusu'? Mereka orang yang khusu' itu adalah orang-orang yang dalam hidupnya menghadapkan dirinya kepada Alloh dan kembali menuju Alloh.
Jadi kalau mau melihat seseorang sholatnya kusu' atau tidak lihatlah apakah dalam kesharian hidupnya selalu sungguh-sungguh hanya untuk Alloh, di jalan Alloh.
Ternyata khusu bukan hanya dalam sholat, tetapi dalam sepanjang kehidupannya. Orang yang dalam setiap tarikan nafasnya tidak khusus, pasti akan sulit mencapai khusu dalam sholat.
Karena memang sholat itu miniatur kehidupan.Berdiri adalah simbol hormat, yaitu dalam hidup harus selalu sadar selalu menghormati keberadaan Alloh dan aturanNya.Ruku adalah simbol taat, yaitu dalam hidup harus selalu mentaati aturan-aturan Alloh.Sujud adalah simbol tunduk, yaitu dalam hidup hanya tunduk kepada Dzat Alloh, hanya menyembah Alloh.Ada juga yang memaknai, sujud pertama maknanya dalam hidup harus sadar bahwa ruh dirinya berasal dari Alloh, jasadnya berasal dari tanah/bumi yang disujudi. Dan sujud kedua dalam hidup harus sadar bahwa ruh diriya akan kembali kepada Alloh dan jasadnya akan kembali ke bumi juga.
Duduk, simbol ketenagan. Yaitu bahwa dalam hidup akan mencapai ketentraman jika menyadari bahwa kemulyaan hidup, keberkahan hidup, kehormatan hidup, kebaikan hidup adalah milik Alloh. Menyadari bahwa keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan telah dilimpahkan kepada para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Dan juga harus sadar bahwa yang akan menrima keselamatan kesejahteraan adalah orang-orang yang sholih bukan yanglain.
Salam ke kanan, bermakna dalam hidup kita musti berbuat keselamatan untuk ahli kebaikan, membantu orang-orang yang baik untuk melakukan kebaikannya.
Salam ke kiri, bermakna bahwa dalam hidup musti berbuat keselamatan juga kepada orang-orang yang masih bergelimang maksiat dan dosa. Mendoakan agar Alloh memberikan rohmat untuk bertaubat dan meninggalkan maksiatnya dan kembali ke jalan Alloh.
Smoga kita bisa menjaga dan beriusaha khusu dalam hidup kita.
Alhamdulillahi robbil'alamin
Wasalamu ala manit taba alhudaWasalamu alakum wr wb.
Her Budiarto
19 September 2010 jam 6:10Keutamaan Hari Jum’at
1. Hari paling utama di dunia
Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
- Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
- Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
- Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
- Hari akan terjadinya kiamat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata:
“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)
2. Hari bagi kaum muslimin
Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.
Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)
4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)
Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:
a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.
b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyimrahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”
5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at
1. Memperbanyak shalawat
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)
2. Membaca surat Al Kahfi
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.)
4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)
- Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.
- Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.
- Diam mendengarkan khatib berkhutbah.
- Memakai pakaian yang terbaik.
- Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.
9 Akibat Tertawa Berlebih- lebihan
Abu Laits berkata : "Awaslah kamu dari ketawa berlebih-lebihan kerana ketawa mengandung 8 bahaya.
1.· Tercela oleh ulama dan orang yang sopan sempurna akal.
2.· Memberanikan orang bodoh kepadamu ·
3. Jika engkau bodoh niscaya betambah kebodohanmu dan
4. Bila engkau alim berkurang ilmumu sebab ada riwayat: Seorang alim jika ketawa berarti telah memuntahkan ilmunya.
5. Melupakan dosa-dosa yang lampau
6. Memberanikan membuat dosa di masa depan, sebab bila ketawa terbahak membekukan hatimu.
7. Melupakan mati dan akhirat
8. Engkau menanggung dosa orang yang ketawa kerana ketawamu
9. Ketawa terbahak-bahak itu menyebabkan banyak menangis di akhirat.
Smoga menjadi bahan pelajaran
Wasalam
Her budiarto
