Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Telaah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

Siapakah Orang-orang Yang Khusu'

Sesunguhnya sholat itu berat, kecuali bagi orang yang khusu'. Siapakah orang yang khusu'? Mereka orang yang khusu' itu adalah orang-orang yang dalam hidupnya menghadapkan dirinya kepada Alloh dan kembali menuju Alloh.

Jadi kalau mau melihat seseorang sholatnya kusu' atau tidak lihatlah apakah dalam kesharian hidupnya selalu sungguh-sungguh hanya untuk Alloh, di jalan Alloh.

Ternyata khusu bukan hanya dalam sholat, tetapi dalam sepanjang kehidupannya. Orang yang dalam setiap tarikan nafasnya tidak khusus, pasti akan sulit mencapai khusu dalam sholat.

Karena memang sholat itu miniatur kehidupan.Berdiri adalah simbol hormat, yaitu dalam hidup harus selalu sadar selalu menghormati keberadaan Alloh dan aturanNya.Ruku adalah simbol taat, yaitu dalam hidup harus selalu mentaati aturan-aturan Alloh.Sujud adalah simbol tunduk, yaitu dalam hidup hanya tunduk kepada Dzat Alloh, hanya menyembah Alloh.Ada juga yang memaknai, sujud pertama maknanya dalam hidup harus sadar bahwa ruh dirinya berasal dari Alloh, jasadnya berasal dari tanah/bumi yang disujudi. Dan sujud kedua dalam hidup harus sadar bahwa ruh diriya akan kembali kepada Alloh dan jasadnya akan kembali ke bumi juga.

Duduk, simbol ketenagan. Yaitu bahwa dalam hidup akan mencapai ketentraman jika menyadari bahwa kemulyaan hidup, keberkahan hidup, kehormatan hidup, kebaikan hidup adalah milik Alloh. Menyadari bahwa keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan telah dilimpahkan kepada para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Dan juga harus sadar bahwa yang akan menrima keselamatan kesejahteraan adalah orang-orang yang sholih bukan yanglain.

Salam ke kanan, bermakna dalam hidup kita musti berbuat keselamatan untuk ahli kebaikan, membantu orang-orang yang baik untuk melakukan kebaikannya.

Salam ke kiri, bermakna bahwa dalam hidup musti berbuat keselamatan juga kepada orang-orang yang masih bergelimang maksiat dan dosa. Mendoakan agar Alloh memberikan rohmat untuk bertaubat dan meninggalkan maksiatnya dan kembali ke jalan Alloh.

Smoga kita bisa menjaga dan beriusaha khusu dalam hidup kita.

Alhamdulillahi robbil'alamin

Wasalamu ala manit taba alhudaWasalamu alakum wr wb.

Her Budiarto 

19 September 2010 jam 6:10

Keutamaan Hari Jum’at

1. Hari paling utama di dunia

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:

  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

2. Hari bagi kaum muslimin

Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.

Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)

4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)

Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:

a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.

b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)

Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyimrahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”

5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)

Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at

1. Memperbanyak shalawat

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)

2. Membaca surat Al Kahfi

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.)

4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)

  • Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.
  • Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.
  • Diam mendengarkan khatib berkhutbah.
  • Memakai pakaian yang terbaik.
  • Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.



Upaya Untuk Membiasakan Menuliskan Tanggal Hijriyah

( Disampaikan dalam merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharrom 1432H)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS.9. At-Taubah 36).

Satu hari menjelang berakhirnya bulan Dzulhijah 1429H kami mendengarkan ceramah seorang pembimbing (Ustadz/Kyai) pengajian bapak-bapak di Masjid di komplek dimana saya tinggal menyampaikan kabar pada para jamaahnya demikian, "beberapa hari lagi tahun 2008M akan berakhir dan akan memasuki tahun 2009 M". Ustadz ini tanpa rasa bersalah tidak menyampaikan bahwa sehari lagi akan berakhir tahun 1429H dan memasuki tahun baru 1 Muharram 1430H. Sementara banyak lagi umat Islam di sekitar kita baik yang taat beribadah apalagi yang kurang perhatian dalam keislaman yang kalau ditanya sekarang tanggal berapa dalam hitungan kalender hijriyah, maka mereka tidak bisa menjawab, bahkan hanya mengingat bulan saja tidak dan dengan senyum lebar malah balik bertanya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, " Berapa ya?".

Inilah sedikit gambaran bahwa sekaliber seorang pembimbing pengajian Islam bahkan seorang pemimpin pesantren pun tidak menyadari adanya perhitungan tanggal hijriyah. Tentu saja warga muslim biasa yang sehari-hari kegiatannya tidak terkait dengan pengajaran Islam baik berupa pengajian maupun pendidikan Islam atau lembaga yang berlabel Islam, mereka tentu saja lebih banyak mengabaikan pemakaian kalender hijriyah.

Kalau mengingat tanggal hijiryah saja lupa maka apalagi mereka menyiapkan amalan-amalan wajib maupun sunah yang terkait dengan datang nya tanggal-tanggal dalam kalender hijriyah. Kebanyakan umat Islam baru ingat ketika telah datang undangan peringatan-peringatan hari besar Islam maupun datang bulan Romadlon dan bulan Dzulhijah.

Bagaimanakah caranya untuk membiasakan masyarakat umat Islam memakai penanggalan Hijriyah dalam kehidupan sehari-hari dengan menuliskan dalam setiap dokumen yang mereka terbitkan tanggal hijriyah disamping tetap menuliskan tanggal masehi. Ini penting untuk diupayakan agar umat Islam bisa merasa memiliki kalender hijriyah yang merupakan kalender umat Islam yang berhubungan dengan waktu-waktu beribadah dalam agama Islam.

Dalam sejarah pemerintahan umat Islam di Jawa, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram yang pada awalnya menggunakan kalender Saka yang berdasarkan penanggalan peredaran Matahari (Syamsiyah) dari India kemudian sesuaikan dengan kalender Hijriyah dimana angka tahun tetap melanjutkan angka tahun kalender Saka tetapi perhitungan tanggal, bulan berdasarkan peredaran bulan (qomariyah). Bahkan kerajaan menerbitkan sebuah pedoman social masyarakat Islam di wilayah Mataram berupa pranatamangsa, dan pedoman nujum dan lain-lainnya yang membuat masyarakat di jawa waktu itu sampai sekarang masih memakainya. Ini adalah salah satu bukti pada saat pemerintahan Islam di Jawa ada upaya-upaya nyata untuk mensosialisasikan kalender Hijriyah yang telah dikawinkan dengan kalender Saka kepada warga masyarakat. Bukti lain dalam sejarah yang masih dipelihara oleh kerajaan-kerajaan Islam adalah dimasukkannya perayaan-perayaan hari-hari bersejarah Islam ( Nabi Muhammad SAW) seperti tahun baru hijriyah, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, peringatan Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha semuanya secara kenegaraan dirayakan secara istimewa sampai sekarang dijadikan even wisata budaya. Dengan istilah "gerebek".

Di masa sekarang walaupun sudah ada upaya-upaya untuk membiasakan pemakaian tanggal Hijriyah oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam dan organisasi keagamaan Islam tetapi ternyata belum cukup membuat masyarakat secara sadar maupun tidak sadar (terperangkap dalam system) menggunakan penanggalan hijriyah dikehidupan sehari-hari.

Secara Kenegaraan memang pemerinah NKRI banyak terlibat dalam urusan penetapan tanggal yang berhubungan dengan kalender Hijriyah secara Nasional. Dari peringatan hari-hari besar Islam secara kenegaraan di Istana Negara yang diadakan oleh lembaga kepresidenan, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW, Nuzulul Quran, penetapan tanggal 1 Romadlon, penetapan ankhir Romadlon dan 1 Syawal, penetapan 10 Dzuhijah serta peringatan 1 Muharram dan juga dijadikan hari libur Nasional. Ternyata upaya ini belum cukup. Bahkan di dunia pendidikan maupun usaha/industri hari-hari libur Nasional yang berkaitan dengan perayaan hari besar Islam tetap bekerja dengan cara tukar hari yang gandeng dengan hari minggu/ahad atau kerja lembur.

Lembaga pendidikan swasta Islam, sebagian melibur proses belajar mengajar bukan hari minggu tetapi pada hari jum'at juga berpengaruh positip untuk membiasakan umat Islam sejak dini menyadari adanya system kalender Hijriyah yang dipakai dalam beribadah umat Islam. Kedepan bahkan kalau perlu melalui DPR yang mewakili umat Islam mengupayakan hari jum'at dijadikan hari libur kerja mingguan, dengan menjadikan hari minggu hari kerja biasa sebagaimana di Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Karena bagaimanapun hari Jum'at adalah ketentuan syara sebagai hari raya Umat Islam sepekan sekali. Dimana pada hari Jum'at ada ibadah sunah khusus di malam hari menjelang hari Jum'at maupun ibadah wajib pada hari Jum'at berupa Sholat Id Yaumil Jum'at. Secara aturan fiqih untuk beribadah Sholat Id Jum'at perlu persiapan-persiapan untuk mencapai dari tujuan adanya Sholat Id Jum'at yang di dahului khotbah Jum'at. Kita sama-sama maklum, bahwa pada saat khotib sedang berkhutbah pada hari Jum'at sebagian besar jemaah sholat jum'at tertidur pulas (mengantuk) sambil duduk. Sudah hamper dapat dipastikan isi khutbah tidak bisa diserap dengan baik oleh jamaah sholat Jum'at. Artinya tujuan khotbah Sholat Jum'at tidak sepenuhnya tercapai dengan baik, kalau tidak boleh dikatakan sia-sia.

Perlu di acungi jempol atau dihargai kepada kalangan pribadi pekerja bebas seperti tukang-tukang kayu, tukang bangunan yang menetapkan hari Jum'at sebagai hari libur kerja, sedang hari Sabtu dan Minggunya tetap bekerja. Juga kalangan pedagang, dan penjual jasa seperti bengkel motor/mobil yang pemiliknya muslim libur pada hari jum'at dan tetap bekerja pada hari Ahad/minggu.

Bisa juga sangat perlu diterbitkan aturan dalam penulisan tanggal secara Nasional mencantumkan penanggalan Hijriyah disamping tetap menuliskan penanggalan Masehi, sebagaimana telah dilakukan oleh Lembaga Keagamaan Islam.

Akhirnya berpulang pada pribadi-pribadi Umat Islam sendiri untuk secara sadar memakai penanggalan hijriyah dalam membuat catatan, menerbitkan dokumen resmi maupun membuat jadwal-jadwal kerja dan kegiatan. Dan bagi warga muslim yang diberi kesempatan menjadi wakil rakyat dilegislatif maupun lembaga eksekutif barangkali bisa mengupayakan untuk membuat aturan-aturan /undang-undang yang mengatur pemakaian kalender Hijriyah disamping kalender Masehi, libur hari raya Jumat dan hari ahad tetap bekerja. Karena hari Ahad adalah berarti hari pertama. Tentu saja lebih tepat hari ke satu adalah dipakai untuk mulai bekerja dalam perputaran hari satu pekan. (Wasalam Her Budiarto/Gunungputri/Bogor/1 Muharram 1430H/29 Des 2008M)



Minggu, 15 Juni 2008

Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

Pemimpin Yang Bertanggung Jawab
Alloh Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

YAUMA NAD’UU KULLA UNAASIN BI IMAAMIHIM – FAMAN UUTIYA KITABAHU – BIYAMINIHI – FAULAAIKA YAKROUUNA KITAABAHUM WA LAA YUDL-LAMUUNA FATIILA (QS.Al-Isra 71)
Artinya:
(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Berbicara masalah ‘Pemimpin’ berarti pula berbicara masalah tanggung jawab, tugas dan kewajiban pemimpin. Dalam Al-Qur’an kata mengenai pemimpin ini memakai berbagai istilah, kadang memakai ‘imam’, kadang memakai kata wali, kadang memakai qowamun dan lainnya. Secara prinsip maka setiap manusia yang lahir ke dunia ini adalah pemimpin. Yaitu memimpin dirinya sendiri agar selalu berbuat amal sholih, berjalan dijalan Alloh, bebuat yang menguntungkan bagi dirinya dan orang lain disekelilingnya. Memimpin dirinya untuk tidak mengikuti hawa untuk memuaskan keinginan-keinginan syahwat, maupun kepuasan diri pribadi ( nafsu). Tentu saja pemimpin ini sangat tergantung dengan nilai hidup atau pegangan hidup yang dipercayai, yang diyakini sebagai jalan hidupnya. Dalam pembahasan ini kami akan berbicara masalah pemimpin dari sisi ajaran Islam, maupun sejarah kepemimpinan dalam umat Islam.
Dalam prakteknya, sekarang ini ada beberapa kepemimpinan secara realitas, diantaranya:
Pertama, Pemimpin Spiritual-Keagamaan: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena seseorang mempunyai ilmu dan amaliyah yang lebih dari pada sesama pengikut suatu jenis spiritual-keagamaan. Kepeimpinan ini bersifat karismatik. Ketaatan yang dipimpin karena keyakinan kebenaran ilmu dan daya kewibawaan amaliyah baik yang telah dilakukan si pemimpin tersebut dalam masyarakat. Kepemimpinan itu akan bubar atau tidak dikikuti jika suatu ketika diketahui si-pemimpin melanggar apa yang diajarkannya atau tidak melaksanakan ajaran yang dianjurkannya.
Kedua, Pemimpin Masyarakat: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena seseorang dengan segala yang dimilikinya berbuat yang bermanfaat untuk masyarakat disekelilingnya. Apa yang diperbuatnya membawa kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan masyarakatnya. Sehingga si-pemimpin jenis ini diikuti oleh masyarakat, dipercaya oleh masyarakat melalui bukti amaliahnya.
Ketiga, Pemimpin Formal-Pemerintahan: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena tuntutan administrative pemerintahan baik itu mulai Ketua RT, Ketua RW, Lurah atau Kepala Desa, Bupati, Gubernur maupun Presiden. Dikehidupan modern sekarang ini seseorang menjadi pemimpin melalui pemilihan, atau pemungutan suara dari warga yang akan dipimpinnya. Hanya masalahnya sekarang warga masyarakat yang memiliki hak suara untuk memilih pemimpin sering salah dalam apa yang menjadi dasar seorang calon pemimpin itu dipilih. Lebih banyak karena rasa kesukuan, kedaerahan, dan karena mendapat suap uang. Yang terakhir inilah yang sesungguhnya membuat masyarakat akan rugi dalam jangka panjang demi untuk mendapat uang jago sesaat. Cara-cara seperti ini yang telah lama disadari untuk diberantas tetapi sangat jarang yang berani memulainya. Inilah saat nya masyarakat memimpin dirinya dengan hikmat kebijaksanaan bukan dengan uang. Berani menolak uang suap, uang jago agar memelih calon tertentu.
Untuk masalah persyaratan menjadi pemimpian bagi umat Islam ada petunjuk dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Pemimpin haruslah orang beragama Islam (QS.5. Al Maidah: 51) ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin;”
Pemimpin haruslah orang yang menjunjung tinggi kehormatan Agama Islam ( QS.5 Al-Maidah: 57), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir”.
Pemimpin haruslah memerintah berdasarkan ajaran-ajaran/petunjuk wahyu Alloh ( QS.21 Al-Anbiyaa 73), ” Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”,
Pemimpin haruslah orang yang sehari-harinya mengerjakan kebajikan, amal sholih (QS.21 Al-Anbiyaa 73).
Pemimpin haruslah orang yang menegakkan nilai nilai Sholat di masyarakat (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang yang dalam kehidupannya terbukti telah menunaikan zakat (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang yang dalam keyakinannya, peribadatannya tidak menyekutukan Alloh (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang memiliki sifat Shobar (QS. 32 AS Sajadah 24).
Pemimpin haruslah orang yang kuat keyakinannya pada kekuasaan Alloh (QS.32.As Sajadah 24).
Pemimpin haruslah orang yang berilmu
Pemimpin haruslah orang yang bisa berbuat adil, meskipun kepada karib kerabatnya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang bersyukur atas segala nikmat dari Alloh.
Pemimpin haruslah orang bekerja dengan tangannya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang bijaksana.
Pemimpin haruslah orang yang tidak mengikuti hawa keinginan-keinginan untuk memuaskan dirinya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang berani mengakui kesalahannya bila ia salah dan memohon maaf kepada Alloh dan masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin haruslah orang yang dianugrahi Alloh kekuatan lebih dari orang kebanyakan. Bisa berupa keluasan ilmunya, bisa berupa karisma-kekuatan spiritualnya, ataupun yang lain.
Tujuh belas persyaratan menjadi pemimpin tersebut di atas disarikan dari Al-Qur’an. Insya Alloh jika betul-betul ditera[kan maka masyarakat akan mencapai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan lahir maupun batin.
Secara contoh maka kita bisa mengambil tauladan kepemimpinan yang baik dan berhasil dalam Al-Qur’an dan sejarah diantaranya adalah :
Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin spiritual Islam juga sebagai pemimpin Negara. Yang mempunyai sifat bersahaja, adil, bijaksana, rendah hati, jujur dan besar jiwa.
Nabi Daud AS, dengan kecerdasannya, keadilannya dan ketaatannya kepada Alloh.
Nabi Sulaiman AS. Dengan ketinggian ilmunya, keluasan kekuasaannya dan adil dan bijaksana.
Dzulqornain, dengan kebijaksanaan dan kekuatannya.
Shohabat Abu Bakar As Shiddiq r.a. dengan ketegasan-nya dan lemah lembutnya.
Shohabat Umar Bin Khathob r.a . ( Umar Al Farouq). Dengan kesederhanaannya, keadilannya dan ketegasannya.
Shobabat Utsman Bin Affan r.a. Dengan kelembutan dan rasa persaudaraannya.
Shohabat Ali Bin Abi Thalib krw. Dengan kebijaksanaannya dan keluasan Ilmunya.
Umar Bin Abdul Azis r.a. dengan kesahajaannya dan ketelitiannya.
Mungkin masih ada bintang-bintang kepemimpinan di sejarah Islam dalam pemerintahan, tetapi pada kesemapatan ini tidak bisa diungkap tokoh-tokoh tersebut karena tenggelam oleh cahaya Sembilan nama di atas.
Setelah kita mengetahui persyaratn pemimpin dan contoh-contoh figure pemimpin masa lalu yang dianugrahkan kepada kita untuk ditauladani apakah yang mesti kita perbuat untuk kebaikan bangsa dan Negara kita ini.
Yang pertama bagi kita masyarakat yang telah berumur maka kita mestilah bertaubat karena selama ini kita telah membiarkan kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang kurang memenuhi syarat seperti yang dipersyaratkan oleh Al-Qur’an dan membiarkan mereka tidak mengambil contoh dari para pemimpin yang telah diakui oleh Alloh kepemimpinannya.
Yang kedua, sebagai umat Islam yang merupakan komponen terbesar bangsa Indonesia mestilah kita sadari bahwa kita telah belum bisa melahirkan pemimpin Islam yang mumpuni yang faham tentang agama Islam dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh tetapi juga faham tentang ilmu kenegaraan. Sehingga selama ini para pemimpin umat Islam dan umat Islam sendiri menyerahkan kepemimpinan Negara kepada orang-orang yang mengerti ilmu kenegaraan tetapi kurang mengerti Ilmu Agama. Maka kedepan umat Islam harus sadar dan segera memulai menyiapkan pendidikan anak-anak Islam yang melahirkan pemimpin yang mengerti dan melaksanakan Agama Islam dengan sungguh-sungguh tetapi juga ia mengerti Ilmu Kenegaraan. Atau pemimpin Negara yang faham dan mengamalkan agama Islam secara sungguh-sungguh disamping mereka memiliki ilmu kenegaraan.
Yang Ketiga, kita harus berani menolak pemberian apapun baik berupa uang, janji kemudahan dan lain-lainnya pada setiap kita akan melahirkan/memilih pemimpin baik ditingkat RT, RW, Desa, Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Negara.
Yang Ke-empat, kita harus berani untuk mengatakan tidak setuju dan menolak bila ada pemimpin kita yang melaksanakan sesuatu kebijakan yang menyimpang dari garis ajaran-ajaran Agama Alloh maupun undang-undang Negara.
Yang Kelima, kita berani bersabar untuk antri sesuai urutannya jika kita memerlukan sesuatu urusan apapun dengan admintrasi kepemerintahan. Tidak mendahului orang lain yang lebih dahulu antri, dan tidak menyuap petugas pemerintah.
Barangkali sementara itu lebih dahulu sedikit pengkajian yang dapat disampaikan, mudah-mudahan bisa diambil manfaat dan menjadikan inspirasi perubahan kea rah kebaikan dimasa depan bangsa dan Negara kita.( Gunungputri, 26 Jumadil Awal 1429H/1 Juni 2008, Her Budiarto).

Solusi, Jika Kehidupan Negara Menjadi Goncang


Solusi, Jika Kehidupan Bernegara Menjadi Goncang?
( Kisah Dawud Mengatasi Masalah Kegoncangan Negara Israil)
Dalam Al-Qur’an Alloh berfirman,” Sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan,” Alhamdulillah, segala puji milik Alloh yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba beriman” QS.27 An Naml:15)
Pada zaman Nabi Dawud AS masih remaja menjadi penggembala kambing, Negara Bani Israil yang dipimpin Presiden-nya bernama Thalut mengalami kegoncangan. Masyarakatnya hidup penuh keresahan, ketidak tentraman. Dari hari ke hari selalu timbul ketidaktentraman di masyarakat Negara Israil tersebut. Kalau di wilayah utara tentram maka di wilayah selatan timbul kerusuhan, jika di wilayah selatan tenang, maka di wilayah utara timbul keributan. Demikian juga jika di wilayah barat tentram, maka di wilayah timur timbul kekacauan. Sehingga pemerintah saat itu benar-benar dibuat pusing dengan timbulnya keresahan, kekacauan dimana-mana, diseluruh negeri. Pemerintah sangat kesulitan mengatasi masalah kekacauan dan kegoncangan masyarakatnya. Setiap hari sang Pemimpin Negara ( Presiden/Raja) berfikir bagaimana cara mengatasi problem ini. Akhirnya dikumpulkan para cerdik cendekiawan, para ulama, para tokoh penasehat Presiden serta para normal untuk diajak musyawarah bagaimana cara mengatasi permasalahan Negara yang sedang goncang tersebut.
Setelah disampaikan maksud dikumpukannya mereka timbullah banyak saran-saran untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu saran yang diajukan oleh seorang ahli para normal kerajaan adalah bahwa dia mendapat ilham yang bisa mengatasi masalah ini adalah seorang pemuda bernama Dawud, pekerjaannya penggembala kambing, ciri-cirinya adalah pemuda tersebut berkulit hitam dan tinggal disuatu desa di negeri Israil tersebut.
Akhirnya sang Presiden Negara Israil waktu itu menerima saran tersebut dan diutuskan delegasi untuk mencari Pemuda bernama Dawud, penggembala kambing yang tinggal disebuh desa. Setelah sampai di desa tersebut dicarilah pemuda yang bernama Dawud Si Penggembala kambing. Baik si delegasi utusan maupun masyarakat tidak percaya apakah pemuda penggembala kambing bisa mengatasi masalah Negara. Apalagi setelah ditemukan Pemuda Penggembala Kambing yang bernama Dawud itu orangnya ternyata hitam kulitnya, dekil dan lusuh pakaiannya. Tambah membuat orang tidak mudah mempercayainya. Setelah di cari-cari tidak ada lagi pemuda lainnya yang bernama Dawud dan penggembala kambing maka utusan itupun membawa satu-satunya pemuda penggembala kambing itu ke Istana. Seketika itu keluarga dari Pemuda Dawud dan masyarakat desa itu menjadi bingung, mengapa Dawud yang tidak punya salah apa-apa mesti ditangkap dan dibawa ke istana Negara. Padahal Dawud itu anak yang baik, tidak pernah mencuri, tidak pernah menyakiti orang lain dan tidak berbuat jahat lainnya. Keluarga dan masyarakat desa itu hanya pasrah atas dibawanya Dawud ke Istana Negara.
Sesampai di Istana Dawud terlihat culun, tengak-tengok melihat mewah dan Indahnya Istana Negara, dalam hatinya Dawud berkata,” Kok bagus nya Istana?”. Maklum orang dari desa yang sehari-harinya menggembala kambing di padang rumput. Setelah diduduk dihadapan sang Presiden/Raja, kemudian Dawud ditanya, “ Apakah benar kamu pemuda yang bernama Dawud?”. Jawab Dawud,” Betul nama saya Dawud”. Sang Presiden bertanya lagi,” Apakah perkerjaan kamu penggembala kambing?” Dawud menjawab singkat,” Ya, betul”. Setelah memastikan bahwa pemuda yang didepannya adalah Dawud Si Penggemabla kambing yang dicarinya maka Sang Presiden langsung menyampaikan maksudnya mengapa Dawud di-undang ke Istana. Yaitu Sang Presiden mau minta saran dan pendapat bagaimana mengatasi masalah kegoncangan Negara, mengatasi kekacauan Negara, tidak adanya ketentraman, kondisi ekonomi morat-marit, persatuannya tercancam pecah, kehidupan politik penuh pertentangan.
Sang Presiden pun bertanya apa pengalaman hidup Dawud. Dawud hanya bercerita bahwa selama ini dia hanya punya pengalaman menggembala kambing. Lainnya tidak ada. Apa yang bisa dihubungkan dengan permasalahan rumit kehidupan Negara. Dawud berkata, “ Pengalaman saya ya menggembala kambing, tidak ada lagi selain itu……”
Sang Presiden terlihat berharap agar Dawud bercerita dengan sebaik-baiknya. Akhirnya Sang Presiden memaksa agar Dawud menceritakan apa saja yang bisa diceritakan pengalamannya selama menggembala kambing.
Dawud pun bercerita, “ Kebisaanya kalau sudah waktu sore, kambing-kambing itu saya kumpulkan, saya masukkan ke dalam kandang. Dan kalau di waktu malam terjadi rebut-ribut di dalam kandang, saya mencari tahu apa penyebabnya. Maka saya bawakan obor untuk menerang gelapnya kandang kambing. Ternyata yang membuat rebut di kandang adalah kambing berok (yang besar). Kambing Besar lah yang membuat keributan. Kambing berok itu kambing yang tanduknya besar-besar, kambing berok tidak perduli meskipun ada kambing kecil yang sudah terdesak sampai dinding kandang, sudah tergencet, tetap saja ia terus dipepet saja. Kambing Berok itulah penyebab keributan di kandang. Kemudian yang kambing berok yang nakal dipisahkan dan seluruh kambing menjadi tenang. Kalau kambing yang kecil biasanya menurut saja, jika di desak kekanan maka ikut ke kanan, dan jika didesak kekiri terus jalan kekiri. Di dalam kandang, jika yang besar tenang maka semua kambing di dalam kandang akan tenang. Kesimpulannya bahwa yang menyebabkan kekacauan di dalam kandang adalah kambing besar/berok. Itulah pengalaman saya ”.
Demikian Dawud mengakhiri ceritanya, Dawud pulang pulang kembali kr desanya. Cerita Dawud kemudian di analisa oleh para penasehat Presiden di pemerintahan, “ Kalau yang menyebabkan keributan di dalam kandang kambing adalah kambing berok, maka kalau terjadi kekacauan dalam Negara pastilah penyebabnya itu para elit politik. Biang keributan Negara adalah para elit.” Demikianlah Ilmu yang telah diberikan Alloh kepada Dawud.
Kemudian dibuatlah langkah-langkah kerja oleh pemimpin-peminpin di Negara Israil sesuai dengan Ilmu mengatasi keributan di di kandang kambing. Setelah diterapkan dengan sungguh-sungguh. Ternyata Negara menjadi tentram, maju dan makmur.
Seperti yang kita ketahui bahwa pada akhirnya Dawud menjadi Presiden Negara Israil ( Raja) menggantikan Raja Thalut yang wafat, setelah mengalahkan musuh Negara Israil bernama Jalut bersama tentaranya. Seperti tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 251, yang artinya,
“ Mereka mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam”.
Dari cerita hikmah diatas dapat ditarik pelajaran bagi kehidupan kita sekarang ini dalam bermasayarakat ,dan bernegara bahwa salah satu factor utama tentramnya kehidupan bernegara adalah jika para elitpolitik, pimpinan kelompok itu bersatu padu bersama saling menjaga dan mendukung untuk kepentingan kemajuan bangsa dan Negara, untuk ketentraman Negara, untuk kemamuran Negara. Para elit berhenti untuk saling bertikai. Berhenti untuk bersilang pendapat. Berhenti untuk saling menyalahkan dan menghujat. Ketika salah satu dipercaya menjadi pemimpin Negara maka yang lainmestilah mendukung dan mentaati kepemimpinannya. Dan jika terjadi penyimpangan maka di-ingatkan secara prosedur yang baik. Demikian juga pemimpin yang sedang berkuasa, dipercaya mestilah melaksanakan kepercayaannya dengan sebaik-baiknya, tidak untuk menindas rakyat ataupun kelompok yang lain, akan tetapi amanah pemerintahannya untuk mensejahterakan rakyatnya semua golongan tanpa kecuali. Dan tentu saja bersiap secara bijaksana menerima kritik dan saran yang disampaikan kepadanya. Inilah pelajaran sederhana tetapi jika dipraktekan akan berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan berbenegara. ( Her Budiarto/Gunungputri-Bogor/30 Mei 2008).