Cari Blog Ini

Jumat, 10 Desember 2010

Perbaikilah Meskipun itu Perbaikan Kecil Terus Menerus

oleh Her Budiarto pada 19 Oktober 2010 jam 21:45

Sesuatu perjalanan akan mandeg ketika seseorang berpandangan bahwa dirinya telah mencapai kesempurnaan, dan kemudian akan ketiggalan oleh yang lain yang terus melakukan perbaikan secara terus menerus meskipun perbaikan itu kecil-kecil.

Perhatikan, "terus menerus meskipun kecil" Dengan demikian akan ada langkah maju, efisien, hemat tetapi produktif.

Yakinlah langkah-langkah kecil itu akan mencapai puncak kalau dilakukan dengan terus menerus.

Jangan menunggu langkah besar yang belum pasti datang dan berhasil...langah besar itu dimulai dari yang kecil-kecil.

Bahayanya Berhutang kepada Ahlaq seseorang

oleh Her Budiarto pada 21 Oktober 2010 jam 23:24

Dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang keadaan memaksa kita untuk memenuhi kebutuhan dengan berhutang karena tidak adanya persedian uang dari diri sendiri. Kunci untuk tidak menemui keadaan yang memaksa kita berhutang adalah hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Firman Allah:

"Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan." (al-An'am: 141)

"Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan." (al-Isra': 26-27)

Kadangkala memang ada keadaan dimana kita terkena musibah yang memerlukan keuangan/biaya yang lebih dari yang tersedia. Misalnya biaya pengobatan karena sakit atau suatu musibah lain. Sehingga trpaksa berhutang. Semasih ada sesuatu yang bisa dijual maka lebih menjual sesuatu barang berharga yang kita miliki untuk membayar atau melunasi hutang.

Dengan kesederhanaan ini maka seorang tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi SAW sendiri tidak suka seorang membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi SAW selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

"Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain." (RiwayatAbu Daud)

Dan ia bersabda pula:

"Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!" (Riwayat Nasa'i dan Hakim)

Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

"Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi." (Riwayat Bukhari)

Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

Rosulullah SAW tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

Dan sabdanya:

"Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang." (Riwayat Muslim)

Berdasar keterangan diatasa, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu (trpaksa). Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia." (Riwayat Bukhari)

Alloh dan RasulNya tidak menyukai hutang tanpa bunga/ rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?! Dengan bunga?

Sangat cocok dengan muitia hikmah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib: 

Banyakberhutang akan menggelincirkan orang yang benar kepada pendustaan

Bencana Fisik adalah Cermin Krisis Moral / Keimanan

oleh Her Budiarto pada 06 November 2010 jam 18:53

Bagi orang yang rasional dan tidak percaya adanya Tuhan Dzat Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta maka bencana alam terjadi karena peristiwa alam biasa, karena alam itu sendiri memerlukan keseimbangan. Dengan gerakan, perubahan untuk mencapai keseimbangannya alam itu akan mengakibatkan bencana bagi penghuni di permukaannya. Dan perubahan untuk mencapai keseimbangan ini terjadi secara berulang sejak alam itu ada.

Jadi bencana tak ada hubungannya dengan tingkah laku manusia yang melanggar norma. Untuk itu yang diperlukan adalah bagaimana manusia menyiapkan sarana bagaimana melatih diri dan membuat alat bantu untuk menghindari korban manusia seminimal mungkin dan membuat rencana bagaimana membangun kembali setelah bencana usai.

Tetapi bagi orang yang berakal dan mempunyai keimanan ada Tuhan Dzat Kekuatan central yang mencipta, mengatur dan memelihara alam semesta ini maka percaya bahwa bencana alam ini terjadi karena kehendak Tuhan untuk memperingatkan centralnya makhluk yaitu manusia agar kembali hidup secara benar sesuai tujuan manusia diciptakan untuk menghambakan diri kepada Tuhan peguasa Alam Semesta. Bencana alam ini terjadi karena sudah mayoritas manusia mengabaikan hati nuraninya, lupa kepada tatanan Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta. Tuhan memerintahkan bkasih sayang dan tolong menolong sesama manusia, tetapi manusia telah banyak yang bermusuhan dan saling membunuh atas egoisme pribadi, kelompok, keluarga, suku dan bangsa atau atas nama keyakinan.

Yang punya kedudukan telah secara trang-terangan memanipulasi keuangan negara, menyunat uang pembangunan untuk rakyat, yang menjadi wakil rakyat bukan membela kepentinga rakyat tetapi membela kepentingan pemimpin partai atau partainya, tidak itu saja juga berani menerima uang suap demi kepentingan seseorang atau golongan, bahkan ada yang befoya foya dengan dalih kunjungan luar negeri untuk studi banding. Mesti studi banding itu dilakukan oleh para pelajar calon pemimpin bangsa bukan para anggota Dewan.

Sementara dimasyarakat yang namanya penipuan merajalela tanpa ada yang menindak atau menghentikannya. Mulai dari pura-pura mencari dana dari rumah ke rumah untuk yayasan anak yatim, pakai mobil dan pengeras suara dispanjang jalan, ada yang pura-pura cacat mengemis di tempat ramai dll.

Yang terpeajar menipunya pakai telephon, internet, sms pura pura jadi panitia hadiah atau mengaku anggota kelaurga lalu mengirim sms kalau lagi ada masalah kecelakaan atau sedang sakit keras lalu minta dikirim uang atau pulsa sekian dll.

Manusia memakan manusia, manusia bentuk badannya tetapi jiiwanya harimau, anjing atau binatang apa saja yang tak mengenal aturan hak dan kewajiban.

Itulah yang kita lihat, kita alami sehari-hari. Jika penyimpangan moral seperti sudah dianggap kewajaran, maka mayoritas akan membiarkan sesamanya untuk berbuat menyimpang.

Sementara itu banyak pula orang-orang yang menipu dengan kedok agama terjadi dimana-mana.

Akakah hal seperti ini terus berjalan, tentu saja tidak kalau ingin hidup ini menjadi tentram dan makmur.

Harus kembali beriman kepada Tuhan, berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama manusia, berlomba lomba saling memberikan pealajaran kebaikan dan kebenaran dan saling menghibur dikala ada musibah dan kesedihan.

mulai lah dari diri sendiri sekarang.

semoga bermanfaat.

Wasalam, Gunungputri 6 Nov 2010

Her Budiarto

Ulama Lampu Dunia, Ulama Cahaya Umat

oleh Her Budiarto pada 22 November 2010 jam 23:32

Rosululloh SAW bersabda," Al'ulamaa-u mashoobihul ardli wa khulafaaul anbiya' ". Artiya :" Ulama itu lampu-lampunya bumi dan penerusnya para Nabi".

Dalam hidup di dunia kita tidak boleh lepas dari tujuan Alloh menciptakan manusia di bumi ini. Sebagaiman Alloh telah firmankan dalam Al-qur'an, " Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia selain hanya untuk IBADAH kepada Ku".

Kalau mau dikatakan hidup kita berada pada jalan yang benar maka seluruh umur kita hanya di-isi dengan ibadah. Kalau tidak di-isi ibadah atau selain ibadah kepada Alloh maka itulah yang dinamakan hidup yang sesat.

Hidup sesat adalah hidup yang isi umur selama hidupnya bukan untuk ibadah kepada Alloh, Tuhan semesta alam, Tuhan segala makhluk.

Kalau begitu betapa pentingnya mengetahui dengan benar apa itu ibadah?, bagaimana cara ibadah yang benar?, kepada siapa ibadah itu? Dan untuk mengetahui itu semua harus bertanya kepada para ulama pewaris para Nabi. Ya pada jaman Nabi-nabi masih hidup manusia bisa langsung belajar kepada para nabi dan rosululloh.

Nabi SAW bersabda, " Al-ilmu khozaaiu wal miftaahu assu-aalfas-aluu yarhamukumulloh"

Artinya: Ilmu itu gedung dan kuncinya itu BERTANYA, maka bertanyalah kamu semua kepada ahli ilmu (ulama) maka kamu akan dikasihi Alloh yang maha tinggi".

Ulama yang mana yang dapat dijadkan tempat untuk bertanya tentang hal yang sangat penting yaitu ibadah?

Nabi SAW bersabda," Al-'ulamaa-u amnaur rosuul man yufarriqus shulthoon"

Artinya: Ulama itu kepercayaan rosul selama ulama itu tidak bercampur dengan penguasa".

Banyak ulama yang tergiur dengan kehormatan dunia atau kenyamanan sesaat, mendukung-dukung seseorang untuk jadi penguasa atau yang sedang berkuasa atau pemilik modal, sehigga seringkali berfatwa hanya memenuhi pesanan penguasa atau pemilik modal, bahkan sekarang ulama ikut-ikutan jadi bintang iklan barang/produk industri.

Semestinya ulama menjadi cahaya umat untuk menuju jalan kebahagiaan, kesejahteraan dunia akhirat yaitu ibadah kepada Alloh, tetapi ada sebagian ulama yang tertipu dengan kesenangan dunia sesaat.

Dalam hal ini Rosulullah SAW bersabda," Wailul li-ummatii min 'ulamaais suu-i"

Artinya: Rusaknya ummatku itu dari ulama-ulama jahat" (Dari shohabat Anas/Jamius Shoghir/wawu/hal 351).

Rusaknya umat menurut rosululloh SAW karena polah tingkahnya para ulama jahat, ulama suu'i.

Ulama suu'i ini jangan di-ikuti, jangan dijadikan imam, kita jangan makmum kepadanya. Karena menyalahi perintah Alloh dalam Al-qur'an.

Perintah Alloh dalam Alqur'an," Waj'alnaa lil muttaqiina imaaman". Artinya: "Dan jadikanlah orang-orangyang taqwa (muttaqin) menjadi IMAM/pemimpin kami".(QS Al Furqon 74).

Mengapa orang yang bertaqwa patut dijadikan imam/pemimpi hidup? Karena Alloh menerangkan bahwa, "Wattaqullooha wayu'allimukulloh". Artinya: Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, maka Alloh mengajar langsung kepadamu".

Jadi orang yang bertakwa akan diajari langsung oleh Alloh tentang jalan hidup.

Dari itulah ulama yang bertakwalah yang mesti kita pilih untuk jadi imam dan tempat bertanya tentang jalan hidup yang mensejahterakan dunia akhirat.

Untuk kita menemukan kebahagiaan dunia akhirat maka kita mesti jadi orang yang bertakwa. Untuk belajar bertakwa mesti belajar kepada ulama yang betul-betul muttaqin.

Alloh berfirman," Alladziina Aamanuu wa kaanuu yattaquun. Lahumul busyroo fiddunyaa wal aakhiroh"

Artinya: "Orang-orang beriman dan mereka itu bertakwa niscaya mengalami KEBAHAGIAAN di dunia dan di akhirat".

Demikianlah sedikit share, pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda sudah menemukan ulama yang anda jadikan imam anda, pemimpin jalan hidup anda untuk menjadikan hidup anda mencapai kebahagiaan hakiki.

Gunungputri, 15 Dzulhijah 1431H/ 21 Nov 2010/ Her Budiarto

Pahala Itu Sudah Diterima, Mengapa Kamu Berharap Pahala Lagi

Pahala Itu Sudah Diterima, Mengapa Kamu Berharap Pahala Lagi

oleh Her Budiarto pada 05 Desember 2010 jam 11:59

Keberadaan seorang manusia boleh dikatakan "dari tiada menjadi ada", juga boleh dikatakan, " ada karena berasal dari sesuatu yang ada". Keberadaannya itu adalah bukan kemauan atau kehendak dirinya sendiri. Jadi keberadaan manusia di alam ini adalah anugrah, adalah pemberian yang besar dari SESUATU Yang Diposisikan Sebagai Tuhan Pencipta segala makhluq.

Pemberian Tuhan yang terbesar adalah dengan telah mewujudkannya diri kita masing-masing ini dalam rupa yang sangat cocok, sangat pas, sangat serasi. Dikatakan oleh Alloh kita diberi wujud kemudian dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan dan hati. Pemberian yang banyak itu diwakili dalam tiga besar yaitu telinga dengan pendengarannya, ke dua mata dengan penglihatannya dan hati dengan perasaannya. Mengapa hanya 3 yang disebutkan?

Karena tiga pemberian itu yang sangat vital dalam hidup ini,meskipun pemberian yang lain juga sangat penting. Kalau diangan-angan jika yang tiga itu tidak dijaga dengan baik dalam penggunaannya maka akan mengakibatkan KERUGIANyang besar bagi manusia itu sendiri dalam hidupnya.

Kita lahir ke dunia ini telah diberi kelengkapan hidup yang cukup yang terus tumbuh dan telah disediakan segala kebutuhan hidup di dunia ini dengan lengkap. Untuk memenuhi kebutuha itu kita telah diberi akal untuk mengolah agar lebih mudah dan manfaat. Ada juga kebutuhan vital yang tak perlu berjuang yaitu udara segar, sinar matahari, air (pada dasarnya sudah tersedia). Telah tersedia pohon-pohon kayu untuk membuat rumah dan perabot, atau logam untuk keperluan kita. Untuk kebahagiaan hidup pun telah diberikan aturan-aturan untuk berhubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta.

Permintaan Tuhan hanya satu, "Ber-Tuhanlah hanya kepada KU dan hanya menghambakan diri kepada-Ku"

Tetapi mengapa banyak dari kita setiap kali berbuat kebaikan yang menagatasnama perintah Tuhan selalu berharap pahala, berharap balasan kebaikan? Padahal sudah menjadi hukum bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan, keburukan akan dibalas keburukan/siksa.

Akibatnya banyak orang yang kecewa kepada Tuhan secara langsung atau tersembunyi, mengapa saya telah berbuat kebaikan yang banyak tetapi hidupku malah tambah sulit dan mederita. Hal ini terjadi karena kesalahan dasar dalam berbuat kebaikan yang didasari atas perintah Tuhan.

Semestinya, kita berbuat kebaikan bukan untuk mendapatkan pahala atau kebaikan, tetapi berbuatlah kebaikan sebagai bentuk rasa syukur atas anugrah Tuhan yang sangat besar dan tak terhingga yang telah kita terima dan nikmati.

Karena Tuhan setiap hari dan setiap detik telah memberikan kebaikan-kebaikan yang sangat banyak dan besar tanpa kita sadari. Dan Tuhan telah berjanji, "Barangsiapa yang berbuat syukur atas pemberianNya maka akan ditambahkan kebaikan yang lebih banyak, tetapi kalau berbuat kufur maka penderitaan yang akan diterima".

Jadi kebaikan dan penderitaan itu akan datang dengan sendiri dengan perbuatan sendiri sebagai bukti pelaksnaan janji Tuhan, hukum keadilan Tuhan.

Minggu, 15 Juni 2008

Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

Pemimpin Yang Bertanggung Jawab
Alloh Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

YAUMA NAD’UU KULLA UNAASIN BI IMAAMIHIM – FAMAN UUTIYA KITABAHU – BIYAMINIHI – FAULAAIKA YAKROUUNA KITAABAHUM WA LAA YUDL-LAMUUNA FATIILA (QS.Al-Isra 71)
Artinya:
(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Berbicara masalah ‘Pemimpin’ berarti pula berbicara masalah tanggung jawab, tugas dan kewajiban pemimpin. Dalam Al-Qur’an kata mengenai pemimpin ini memakai berbagai istilah, kadang memakai ‘imam’, kadang memakai kata wali, kadang memakai qowamun dan lainnya. Secara prinsip maka setiap manusia yang lahir ke dunia ini adalah pemimpin. Yaitu memimpin dirinya sendiri agar selalu berbuat amal sholih, berjalan dijalan Alloh, bebuat yang menguntungkan bagi dirinya dan orang lain disekelilingnya. Memimpin dirinya untuk tidak mengikuti hawa untuk memuaskan keinginan-keinginan syahwat, maupun kepuasan diri pribadi ( nafsu). Tentu saja pemimpin ini sangat tergantung dengan nilai hidup atau pegangan hidup yang dipercayai, yang diyakini sebagai jalan hidupnya. Dalam pembahasan ini kami akan berbicara masalah pemimpin dari sisi ajaran Islam, maupun sejarah kepemimpinan dalam umat Islam.
Dalam prakteknya, sekarang ini ada beberapa kepemimpinan secara realitas, diantaranya:
Pertama, Pemimpin Spiritual-Keagamaan: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena seseorang mempunyai ilmu dan amaliyah yang lebih dari pada sesama pengikut suatu jenis spiritual-keagamaan. Kepeimpinan ini bersifat karismatik. Ketaatan yang dipimpin karena keyakinan kebenaran ilmu dan daya kewibawaan amaliyah baik yang telah dilakukan si pemimpin tersebut dalam masyarakat. Kepemimpinan itu akan bubar atau tidak dikikuti jika suatu ketika diketahui si-pemimpin melanggar apa yang diajarkannya atau tidak melaksanakan ajaran yang dianjurkannya.
Kedua, Pemimpin Masyarakat: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena seseorang dengan segala yang dimilikinya berbuat yang bermanfaat untuk masyarakat disekelilingnya. Apa yang diperbuatnya membawa kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan masyarakatnya. Sehingga si-pemimpin jenis ini diikuti oleh masyarakat, dipercaya oleh masyarakat melalui bukti amaliahnya.
Ketiga, Pemimpin Formal-Pemerintahan: Kepemimpinan jenis ini terjadi karena tuntutan administrative pemerintahan baik itu mulai Ketua RT, Ketua RW, Lurah atau Kepala Desa, Bupati, Gubernur maupun Presiden. Dikehidupan modern sekarang ini seseorang menjadi pemimpin melalui pemilihan, atau pemungutan suara dari warga yang akan dipimpinnya. Hanya masalahnya sekarang warga masyarakat yang memiliki hak suara untuk memilih pemimpin sering salah dalam apa yang menjadi dasar seorang calon pemimpin itu dipilih. Lebih banyak karena rasa kesukuan, kedaerahan, dan karena mendapat suap uang. Yang terakhir inilah yang sesungguhnya membuat masyarakat akan rugi dalam jangka panjang demi untuk mendapat uang jago sesaat. Cara-cara seperti ini yang telah lama disadari untuk diberantas tetapi sangat jarang yang berani memulainya. Inilah saat nya masyarakat memimpin dirinya dengan hikmat kebijaksanaan bukan dengan uang. Berani menolak uang suap, uang jago agar memelih calon tertentu.
Untuk masalah persyaratan menjadi pemimpian bagi umat Islam ada petunjuk dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Pemimpin haruslah orang beragama Islam (QS.5. Al Maidah: 51) ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin;”
Pemimpin haruslah orang yang menjunjung tinggi kehormatan Agama Islam ( QS.5 Al-Maidah: 57), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir”.
Pemimpin haruslah memerintah berdasarkan ajaran-ajaran/petunjuk wahyu Alloh ( QS.21 Al-Anbiyaa 73), ” Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”,
Pemimpin haruslah orang yang sehari-harinya mengerjakan kebajikan, amal sholih (QS.21 Al-Anbiyaa 73).
Pemimpin haruslah orang yang menegakkan nilai nilai Sholat di masyarakat (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang yang dalam kehidupannya terbukti telah menunaikan zakat (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang yang dalam keyakinannya, peribadatannya tidak menyekutukan Alloh (QS.21 Al Anbiya 73).
Pemimpin haruslah orang memiliki sifat Shobar (QS. 32 AS Sajadah 24).
Pemimpin haruslah orang yang kuat keyakinannya pada kekuasaan Alloh (QS.32.As Sajadah 24).
Pemimpin haruslah orang yang berilmu
Pemimpin haruslah orang yang bisa berbuat adil, meskipun kepada karib kerabatnya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang bersyukur atas segala nikmat dari Alloh.
Pemimpin haruslah orang bekerja dengan tangannya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang bijaksana.
Pemimpin haruslah orang yang tidak mengikuti hawa keinginan-keinginan untuk memuaskan dirinya sendiri.
Pemimpin haruslah orang yang berani mengakui kesalahannya bila ia salah dan memohon maaf kepada Alloh dan masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin haruslah orang yang dianugrahi Alloh kekuatan lebih dari orang kebanyakan. Bisa berupa keluasan ilmunya, bisa berupa karisma-kekuatan spiritualnya, ataupun yang lain.
Tujuh belas persyaratan menjadi pemimpin tersebut di atas disarikan dari Al-Qur’an. Insya Alloh jika betul-betul ditera[kan maka masyarakat akan mencapai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan lahir maupun batin.
Secara contoh maka kita bisa mengambil tauladan kepemimpinan yang baik dan berhasil dalam Al-Qur’an dan sejarah diantaranya adalah :
Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin spiritual Islam juga sebagai pemimpin Negara. Yang mempunyai sifat bersahaja, adil, bijaksana, rendah hati, jujur dan besar jiwa.
Nabi Daud AS, dengan kecerdasannya, keadilannya dan ketaatannya kepada Alloh.
Nabi Sulaiman AS. Dengan ketinggian ilmunya, keluasan kekuasaannya dan adil dan bijaksana.
Dzulqornain, dengan kebijaksanaan dan kekuatannya.
Shohabat Abu Bakar As Shiddiq r.a. dengan ketegasan-nya dan lemah lembutnya.
Shohabat Umar Bin Khathob r.a . ( Umar Al Farouq). Dengan kesederhanaannya, keadilannya dan ketegasannya.
Shobabat Utsman Bin Affan r.a. Dengan kelembutan dan rasa persaudaraannya.
Shohabat Ali Bin Abi Thalib krw. Dengan kebijaksanaannya dan keluasan Ilmunya.
Umar Bin Abdul Azis r.a. dengan kesahajaannya dan ketelitiannya.
Mungkin masih ada bintang-bintang kepemimpinan di sejarah Islam dalam pemerintahan, tetapi pada kesemapatan ini tidak bisa diungkap tokoh-tokoh tersebut karena tenggelam oleh cahaya Sembilan nama di atas.
Setelah kita mengetahui persyaratn pemimpin dan contoh-contoh figure pemimpin masa lalu yang dianugrahkan kepada kita untuk ditauladani apakah yang mesti kita perbuat untuk kebaikan bangsa dan Negara kita ini.
Yang pertama bagi kita masyarakat yang telah berumur maka kita mestilah bertaubat karena selama ini kita telah membiarkan kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang kurang memenuhi syarat seperti yang dipersyaratkan oleh Al-Qur’an dan membiarkan mereka tidak mengambil contoh dari para pemimpin yang telah diakui oleh Alloh kepemimpinannya.
Yang kedua, sebagai umat Islam yang merupakan komponen terbesar bangsa Indonesia mestilah kita sadari bahwa kita telah belum bisa melahirkan pemimpin Islam yang mumpuni yang faham tentang agama Islam dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh tetapi juga faham tentang ilmu kenegaraan. Sehingga selama ini para pemimpin umat Islam dan umat Islam sendiri menyerahkan kepemimpinan Negara kepada orang-orang yang mengerti ilmu kenegaraan tetapi kurang mengerti Ilmu Agama. Maka kedepan umat Islam harus sadar dan segera memulai menyiapkan pendidikan anak-anak Islam yang melahirkan pemimpin yang mengerti dan melaksanakan Agama Islam dengan sungguh-sungguh tetapi juga ia mengerti Ilmu Kenegaraan. Atau pemimpin Negara yang faham dan mengamalkan agama Islam secara sungguh-sungguh disamping mereka memiliki ilmu kenegaraan.
Yang Ketiga, kita harus berani menolak pemberian apapun baik berupa uang, janji kemudahan dan lain-lainnya pada setiap kita akan melahirkan/memilih pemimpin baik ditingkat RT, RW, Desa, Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Negara.
Yang Ke-empat, kita harus berani untuk mengatakan tidak setuju dan menolak bila ada pemimpin kita yang melaksanakan sesuatu kebijakan yang menyimpang dari garis ajaran-ajaran Agama Alloh maupun undang-undang Negara.
Yang Kelima, kita berani bersabar untuk antri sesuai urutannya jika kita memerlukan sesuatu urusan apapun dengan admintrasi kepemerintahan. Tidak mendahului orang lain yang lebih dahulu antri, dan tidak menyuap petugas pemerintah.
Barangkali sementara itu lebih dahulu sedikit pengkajian yang dapat disampaikan, mudah-mudahan bisa diambil manfaat dan menjadikan inspirasi perubahan kea rah kebaikan dimasa depan bangsa dan Negara kita.( Gunungputri, 26 Jumadil Awal 1429H/1 Juni 2008, Her Budiarto).

Solusi, Jika Kehidupan Negara Menjadi Goncang


Solusi, Jika Kehidupan Bernegara Menjadi Goncang?
( Kisah Dawud Mengatasi Masalah Kegoncangan Negara Israil)
Dalam Al-Qur’an Alloh berfirman,” Sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan,” Alhamdulillah, segala puji milik Alloh yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba beriman” QS.27 An Naml:15)
Pada zaman Nabi Dawud AS masih remaja menjadi penggembala kambing, Negara Bani Israil yang dipimpin Presiden-nya bernama Thalut mengalami kegoncangan. Masyarakatnya hidup penuh keresahan, ketidak tentraman. Dari hari ke hari selalu timbul ketidaktentraman di masyarakat Negara Israil tersebut. Kalau di wilayah utara tentram maka di wilayah selatan timbul kerusuhan, jika di wilayah selatan tenang, maka di wilayah utara timbul keributan. Demikian juga jika di wilayah barat tentram, maka di wilayah timur timbul kekacauan. Sehingga pemerintah saat itu benar-benar dibuat pusing dengan timbulnya keresahan, kekacauan dimana-mana, diseluruh negeri. Pemerintah sangat kesulitan mengatasi masalah kekacauan dan kegoncangan masyarakatnya. Setiap hari sang Pemimpin Negara ( Presiden/Raja) berfikir bagaimana cara mengatasi problem ini. Akhirnya dikumpulkan para cerdik cendekiawan, para ulama, para tokoh penasehat Presiden serta para normal untuk diajak musyawarah bagaimana cara mengatasi permasalahan Negara yang sedang goncang tersebut.
Setelah disampaikan maksud dikumpukannya mereka timbullah banyak saran-saran untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu saran yang diajukan oleh seorang ahli para normal kerajaan adalah bahwa dia mendapat ilham yang bisa mengatasi masalah ini adalah seorang pemuda bernama Dawud, pekerjaannya penggembala kambing, ciri-cirinya adalah pemuda tersebut berkulit hitam dan tinggal disuatu desa di negeri Israil tersebut.
Akhirnya sang Presiden Negara Israil waktu itu menerima saran tersebut dan diutuskan delegasi untuk mencari Pemuda bernama Dawud, penggembala kambing yang tinggal disebuh desa. Setelah sampai di desa tersebut dicarilah pemuda yang bernama Dawud Si Penggembala kambing. Baik si delegasi utusan maupun masyarakat tidak percaya apakah pemuda penggembala kambing bisa mengatasi masalah Negara. Apalagi setelah ditemukan Pemuda Penggembala Kambing yang bernama Dawud itu orangnya ternyata hitam kulitnya, dekil dan lusuh pakaiannya. Tambah membuat orang tidak mudah mempercayainya. Setelah di cari-cari tidak ada lagi pemuda lainnya yang bernama Dawud dan penggembala kambing maka utusan itupun membawa satu-satunya pemuda penggembala kambing itu ke Istana. Seketika itu keluarga dari Pemuda Dawud dan masyarakat desa itu menjadi bingung, mengapa Dawud yang tidak punya salah apa-apa mesti ditangkap dan dibawa ke istana Negara. Padahal Dawud itu anak yang baik, tidak pernah mencuri, tidak pernah menyakiti orang lain dan tidak berbuat jahat lainnya. Keluarga dan masyarakat desa itu hanya pasrah atas dibawanya Dawud ke Istana Negara.
Sesampai di Istana Dawud terlihat culun, tengak-tengok melihat mewah dan Indahnya Istana Negara, dalam hatinya Dawud berkata,” Kok bagus nya Istana?”. Maklum orang dari desa yang sehari-harinya menggembala kambing di padang rumput. Setelah diduduk dihadapan sang Presiden/Raja, kemudian Dawud ditanya, “ Apakah benar kamu pemuda yang bernama Dawud?”. Jawab Dawud,” Betul nama saya Dawud”. Sang Presiden bertanya lagi,” Apakah perkerjaan kamu penggembala kambing?” Dawud menjawab singkat,” Ya, betul”. Setelah memastikan bahwa pemuda yang didepannya adalah Dawud Si Penggemabla kambing yang dicarinya maka Sang Presiden langsung menyampaikan maksudnya mengapa Dawud di-undang ke Istana. Yaitu Sang Presiden mau minta saran dan pendapat bagaimana mengatasi masalah kegoncangan Negara, mengatasi kekacauan Negara, tidak adanya ketentraman, kondisi ekonomi morat-marit, persatuannya tercancam pecah, kehidupan politik penuh pertentangan.
Sang Presiden pun bertanya apa pengalaman hidup Dawud. Dawud hanya bercerita bahwa selama ini dia hanya punya pengalaman menggembala kambing. Lainnya tidak ada. Apa yang bisa dihubungkan dengan permasalahan rumit kehidupan Negara. Dawud berkata, “ Pengalaman saya ya menggembala kambing, tidak ada lagi selain itu……”
Sang Presiden terlihat berharap agar Dawud bercerita dengan sebaik-baiknya. Akhirnya Sang Presiden memaksa agar Dawud menceritakan apa saja yang bisa diceritakan pengalamannya selama menggembala kambing.
Dawud pun bercerita, “ Kebisaanya kalau sudah waktu sore, kambing-kambing itu saya kumpulkan, saya masukkan ke dalam kandang. Dan kalau di waktu malam terjadi rebut-ribut di dalam kandang, saya mencari tahu apa penyebabnya. Maka saya bawakan obor untuk menerang gelapnya kandang kambing. Ternyata yang membuat rebut di kandang adalah kambing berok (yang besar). Kambing Besar lah yang membuat keributan. Kambing berok itu kambing yang tanduknya besar-besar, kambing berok tidak perduli meskipun ada kambing kecil yang sudah terdesak sampai dinding kandang, sudah tergencet, tetap saja ia terus dipepet saja. Kambing Berok itulah penyebab keributan di kandang. Kemudian yang kambing berok yang nakal dipisahkan dan seluruh kambing menjadi tenang. Kalau kambing yang kecil biasanya menurut saja, jika di desak kekanan maka ikut ke kanan, dan jika didesak kekiri terus jalan kekiri. Di dalam kandang, jika yang besar tenang maka semua kambing di dalam kandang akan tenang. Kesimpulannya bahwa yang menyebabkan kekacauan di dalam kandang adalah kambing besar/berok. Itulah pengalaman saya ”.
Demikian Dawud mengakhiri ceritanya, Dawud pulang pulang kembali kr desanya. Cerita Dawud kemudian di analisa oleh para penasehat Presiden di pemerintahan, “ Kalau yang menyebabkan keributan di dalam kandang kambing adalah kambing berok, maka kalau terjadi kekacauan dalam Negara pastilah penyebabnya itu para elit politik. Biang keributan Negara adalah para elit.” Demikianlah Ilmu yang telah diberikan Alloh kepada Dawud.
Kemudian dibuatlah langkah-langkah kerja oleh pemimpin-peminpin di Negara Israil sesuai dengan Ilmu mengatasi keributan di di kandang kambing. Setelah diterapkan dengan sungguh-sungguh. Ternyata Negara menjadi tentram, maju dan makmur.
Seperti yang kita ketahui bahwa pada akhirnya Dawud menjadi Presiden Negara Israil ( Raja) menggantikan Raja Thalut yang wafat, setelah mengalahkan musuh Negara Israil bernama Jalut bersama tentaranya. Seperti tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 251, yang artinya,
“ Mereka mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam”.
Dari cerita hikmah diatas dapat ditarik pelajaran bagi kehidupan kita sekarang ini dalam bermasayarakat ,dan bernegara bahwa salah satu factor utama tentramnya kehidupan bernegara adalah jika para elitpolitik, pimpinan kelompok itu bersatu padu bersama saling menjaga dan mendukung untuk kepentingan kemajuan bangsa dan Negara, untuk ketentraman Negara, untuk kemamuran Negara. Para elit berhenti untuk saling bertikai. Berhenti untuk bersilang pendapat. Berhenti untuk saling menyalahkan dan menghujat. Ketika salah satu dipercaya menjadi pemimpin Negara maka yang lainmestilah mendukung dan mentaati kepemimpinannya. Dan jika terjadi penyimpangan maka di-ingatkan secara prosedur yang baik. Demikian juga pemimpin yang sedang berkuasa, dipercaya mestilah melaksanakan kepercayaannya dengan sebaik-baiknya, tidak untuk menindas rakyat ataupun kelompok yang lain, akan tetapi amanah pemerintahannya untuk mensejahterakan rakyatnya semua golongan tanpa kecuali. Dan tentu saja bersiap secara bijaksana menerima kritik dan saran yang disampaikan kepadanya. Inilah pelajaran sederhana tetapi jika dipraktekan akan berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan berbenegara. ( Her Budiarto/Gunungputri-Bogor/30 Mei 2008).