Cari Blog Ini

Rabu, 26 Januari 2011

Mengambil Pelajaran Cerita Jujur Dari Play Boy-1

Cerita ini ditulis dari kisah nyata teman-teman saya yang terjerumus dalam kehidupan play boy, yaitu seorang laki-laki yang meskipun beristri tetapi masih suka selingkuh, atau memuaskan seks nya dengan selain isterinya.

Untuk seri pertama ini dikisahkan dari sahabat saya yang pada akhirnya taubat berhenti dari perilaku suka bermain seks degan banyak wanita. Sahabat ini menceritakan tentang kehidupan gelapnya kepada saya bahwa selama ini bermain seks dengan banyak wanita dimana sajapun jadi. Tidak harus di kamar hotel, atau kamar losmen atau rumah, tetapi dia menceritkan dilorong sepi sambil berdiri juga tak mengapa. Kebetulan dia sebelum taubat waktu bekerja menjadi keamanan bar/klub malam di kota Surabaya. Jadi sangat mudah mendapatkan wanita yang lagi kesepian dan datang ke bar. Memang fisik sahabat saya ini sangat tampan, saya boleh bilang mirip sekali degan aktor Robby Sugara, bitang iklanBris waktu itu.
Akhirnya dia membuka cerita asal muasal mengapa dia sampai sangat gila seks itu. Kenikamatan seks itu dimulai waktu dia masih usia sekolah dasar. Dimana dia menajadi anak orang yang berada hanya saja sering ditinggal ayah dan ibunya yang bekerja. Ceritanya sejak kecil dinina bobokan kalau mau tidursama pembantu rumah tangga yang perempuan.

Sampai suatu saat mungkin si PRT yang janda muda itu sudah gak tahan lagi menahan birahinya, maka kemaluan si temansaya yang masih belum di sunat itu dipegang-pengang dan dimasuk-masuk ke barang PRT itu. Teman saya itu tak merasa itu sesuatu yang salah dan manut saja sampai seing kali terjadi sampai akhirnya sekolah SMP.
Karena sudah terbiasa oleh PRT dimaini barangnya, waktu SMP kalau lagi hasrtanya timbul maka dia akan mencari pasangan bahkan sampai kepelacur jalanan. Bahkan dia bercerita sampai suatu saat barangnya bengkak kena infeksi penyakit kelamin. Jadi gak berani sekolah karena jalannya ngegang. Akhir berani berkecan juga dengan teman-teman setelah SMA. Dan setelah enikah dan bekerja tetap saja kebiasaan ngesek selain kepada isteri terus dijalani tanpa rasa berdosa dan mengkhianati istrinya. Yang membuat dia bertaubat ketika dia akhirnya kena lumpuh kaki dan ditinggal mati isterinya. Kemudian ada seorang ustadz yang mengajaknya bergabung mengaji dan bertaubat, yang membuat dia tertarik adalah kata-kata," dengan bertaubat Alloh akan memberikan ampunan"

Pelajaran yang bisa dipetik yaitu bahwa sebaiknya anak-anak laki-laki ataupun perempun kita tidurnya dipisah meski hanya lah dengan pembantu wanita bagi anak laki-laki. Termasuk anak laki-laki kita dengan anak perempuan kita.

Jumat, 10 Desember 2010

Menjadi Orang Yang Sadar Diri

oleh Her Budiarto pada 17 Oktober 2010 jam 0:09

Gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman disebrang lautan tampak. Kata pepatah patut direnungkan, karena banyak orang yang suka sekali menilai orang lain, terutama menilai kekurangan orang lain , keburukan orang lain. Tetapi tak mau melihat apa kekurangan dirinya sendiri. Melihat saja tak pernah apalagi menyaari kekurangan diri. Inilah penyakit manusia yang paling banyakdan mudah berjangkit.

Teringat saya akan mutiara hkmah dari Sang sufi, bila kamu bertemu anak muda dan kemudian terlihat oleh mu berbuat maksiat maka pandanglah secara positip dan lihatlah ke dalam diri....diri sudah tua, hanya ada sedikit waktu lagi untuk berbuat ta'at pada Alloh, sementara anak muda itu masih jauh umurnya bisa jadi nanti diusia tuanya dia bertobat dan menjadi orang yang sholih. Bila bertemu orang yang sudah tua, kemudian terlihat oleh ia bermaksiat kepada Alloh maka pandanglah kedalam diri....saya masih muda, iya sekarang masih dalam ketaatan, siapa tahu kita tergoda dimasa tuanya....smoga saja orang tua itu bertaubat sebelum ajal tiba dan saya berdoa smoga saya di-istiqomahkan dalam taat sampai akhir hayat.

Orang yang Sadar diri adalah orang yang selalu melihat segala kejadian di depan mata/yang dialami selalu dijadikan pelajaran diri, untuk memperbaiki diri, bukan berharap orang lain yang berbuat baik, atau memperbaiki diri, tetapi dia lebih dulu melakukan perubahan ke arah kesolihan diri pribadi

Menjaga Komitmen Ternyata Susah

oleh Her Budiarto pada 18 Oktober 2010 jam 17:58

Seseorang biasanya sangat mudah membuat komitmen. Menyepakati sesuatu yang dalam perkiraannya bisa dijalankan. Seperti menerima amanah suatu kepengurusan lembaga, atau komitmen-komitmen laiinya.

Tetapi realitanya banyak orang yang tak sesuai dengan komitmennya. Terutama komitmen yang bersifat sosial kemasyarakatan maupun sukarela. Padahal kemulyaan dan kebesaran seseorang adalah terletak pada pandai memegang komitmen.

Apakah anda termasuk yang panadai menjaga komitmen?

Atau termasuk yang mudah sekali mengalahkan komitment dengan kepentingan pribadi.

Salam

Her Budiarto

Perbaikilah Meskipun itu Perbaikan Kecil Terus Menerus

oleh Her Budiarto pada 19 Oktober 2010 jam 21:45

Sesuatu perjalanan akan mandeg ketika seseorang berpandangan bahwa dirinya telah mencapai kesempurnaan, dan kemudian akan ketiggalan oleh yang lain yang terus melakukan perbaikan secara terus menerus meskipun perbaikan itu kecil-kecil.

Perhatikan, "terus menerus meskipun kecil" Dengan demikian akan ada langkah maju, efisien, hemat tetapi produktif.

Yakinlah langkah-langkah kecil itu akan mencapai puncak kalau dilakukan dengan terus menerus.

Jangan menunggu langkah besar yang belum pasti datang dan berhasil...langah besar itu dimulai dari yang kecil-kecil.

Bahayanya Berhutang kepada Ahlaq seseorang

oleh Her Budiarto pada 21 Oktober 2010 jam 23:24

Dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang keadaan memaksa kita untuk memenuhi kebutuhan dengan berhutang karena tidak adanya persedian uang dari diri sendiri. Kunci untuk tidak menemui keadaan yang memaksa kita berhutang adalah hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Firman Allah:

"Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan." (al-An'am: 141)

"Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan." (al-Isra': 26-27)

Kadangkala memang ada keadaan dimana kita terkena musibah yang memerlukan keuangan/biaya yang lebih dari yang tersedia. Misalnya biaya pengobatan karena sakit atau suatu musibah lain. Sehingga trpaksa berhutang. Semasih ada sesuatu yang bisa dijual maka lebih menjual sesuatu barang berharga yang kita miliki untuk membayar atau melunasi hutang.

Dengan kesederhanaan ini maka seorang tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi SAW sendiri tidak suka seorang membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi SAW selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

"Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain." (RiwayatAbu Daud)

Dan ia bersabda pula:

"Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!" (Riwayat Nasa'i dan Hakim)

Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

"Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi." (Riwayat Bukhari)

Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

Rosulullah SAW tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

Dan sabdanya:

"Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang." (Riwayat Muslim)

Berdasar keterangan diatasa, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu (trpaksa). Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia." (Riwayat Bukhari)

Alloh dan RasulNya tidak menyukai hutang tanpa bunga/ rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?! Dengan bunga?

Sangat cocok dengan muitia hikmah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib: 

Banyakberhutang akan menggelincirkan orang yang benar kepada pendustaan

Bencana Fisik adalah Cermin Krisis Moral / Keimanan

oleh Her Budiarto pada 06 November 2010 jam 18:53

Bagi orang yang rasional dan tidak percaya adanya Tuhan Dzat Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta maka bencana alam terjadi karena peristiwa alam biasa, karena alam itu sendiri memerlukan keseimbangan. Dengan gerakan, perubahan untuk mencapai keseimbangannya alam itu akan mengakibatkan bencana bagi penghuni di permukaannya. Dan perubahan untuk mencapai keseimbangan ini terjadi secara berulang sejak alam itu ada.

Jadi bencana tak ada hubungannya dengan tingkah laku manusia yang melanggar norma. Untuk itu yang diperlukan adalah bagaimana manusia menyiapkan sarana bagaimana melatih diri dan membuat alat bantu untuk menghindari korban manusia seminimal mungkin dan membuat rencana bagaimana membangun kembali setelah bencana usai.

Tetapi bagi orang yang berakal dan mempunyai keimanan ada Tuhan Dzat Kekuatan central yang mencipta, mengatur dan memelihara alam semesta ini maka percaya bahwa bencana alam ini terjadi karena kehendak Tuhan untuk memperingatkan centralnya makhluk yaitu manusia agar kembali hidup secara benar sesuai tujuan manusia diciptakan untuk menghambakan diri kepada Tuhan peguasa Alam Semesta. Bencana alam ini terjadi karena sudah mayoritas manusia mengabaikan hati nuraninya, lupa kepada tatanan Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta. Tuhan memerintahkan bkasih sayang dan tolong menolong sesama manusia, tetapi manusia telah banyak yang bermusuhan dan saling membunuh atas egoisme pribadi, kelompok, keluarga, suku dan bangsa atau atas nama keyakinan.

Yang punya kedudukan telah secara trang-terangan memanipulasi keuangan negara, menyunat uang pembangunan untuk rakyat, yang menjadi wakil rakyat bukan membela kepentinga rakyat tetapi membela kepentingan pemimpin partai atau partainya, tidak itu saja juga berani menerima uang suap demi kepentingan seseorang atau golongan, bahkan ada yang befoya foya dengan dalih kunjungan luar negeri untuk studi banding. Mesti studi banding itu dilakukan oleh para pelajar calon pemimpin bangsa bukan para anggota Dewan.

Sementara dimasyarakat yang namanya penipuan merajalela tanpa ada yang menindak atau menghentikannya. Mulai dari pura-pura mencari dana dari rumah ke rumah untuk yayasan anak yatim, pakai mobil dan pengeras suara dispanjang jalan, ada yang pura-pura cacat mengemis di tempat ramai dll.

Yang terpeajar menipunya pakai telephon, internet, sms pura pura jadi panitia hadiah atau mengaku anggota kelaurga lalu mengirim sms kalau lagi ada masalah kecelakaan atau sedang sakit keras lalu minta dikirim uang atau pulsa sekian dll.

Manusia memakan manusia, manusia bentuk badannya tetapi jiiwanya harimau, anjing atau binatang apa saja yang tak mengenal aturan hak dan kewajiban.

Itulah yang kita lihat, kita alami sehari-hari. Jika penyimpangan moral seperti sudah dianggap kewajaran, maka mayoritas akan membiarkan sesamanya untuk berbuat menyimpang.

Sementara itu banyak pula orang-orang yang menipu dengan kedok agama terjadi dimana-mana.

Akakah hal seperti ini terus berjalan, tentu saja tidak kalau ingin hidup ini menjadi tentram dan makmur.

Harus kembali beriman kepada Tuhan, berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama manusia, berlomba lomba saling memberikan pealajaran kebaikan dan kebenaran dan saling menghibur dikala ada musibah dan kesedihan.

mulai lah dari diri sendiri sekarang.

semoga bermanfaat.

Wasalam, Gunungputri 6 Nov 2010

Her Budiarto